Minggu, 18 Juli 2021

Sindrom Ratu Lebah

 

Sumber gambar: https://bit.ly/3hJHQ4M


Saya pernah membaca entah di mana, lupa, katanya kalau cara terbaik untuk mengetahui keburukan seorang perempuan adalah dengan cara memuji-perempuan itu habis-habisan di depan teman dekatnya. Awalnya saya tidak mengerti dengan kalimat tersebut sampai suatu hari...

Sabtu, 17 Juli 2021

Terdistraksi Social Media

 

Sumber gambar :https://bit.ly/2USRWaD

Menamatkan satu buku, saya akui saat ini rasanya sulit sekali. Buku dengan ketebalan wajar, dibaca santai, biasanya tidak butuh waktu satu hari. Tapi kini, bisa sampai 2-3 hari. Kenapa bisa begitu? Kalau untuk saya pribadi, salah satu alasannya adalah kini saya terlalu mudah terdistraksi. Lagi membaca, tiba-tiba teringat belum membalas chat. Chat selesai dibalas, siap-siap membuka aplikasi Gramedia Digital untuk membaca lagi eh jarinya mampir ke instagram, scroll story, scroll reels, nemu lagu bagus di reels lalu cari di spotify, dengarkan sebentar ternyata enak, malah sibuk mindahin lagu-lagu bagus ke playlist. Nemu video bagus di reels, malah penasaran cara membuatnya, akhirnya foto diotak atik biar jadi video aestetik. Lupa kalau tadi mau baca.

Senin, 21 Juni 2021

Mengenalkan Empati pada Anak


Foto oleh Meruyert Gonullu dari Pexels

Bunda, hari ini temanku, Malik, tidak membawa bekal makanan. Dia pasti sedih karena sendirian. Bunda membawakanku dua buah roti jadi satu aku berikan pada Malik, satunya lagi aku makan. Nanti di rumah, aku masih bisa minta roti lagi pada Bunda. Jadi tidak apa-apa kalau aku hanya makan satu. Malik bilang terima kasih dan dia memberiku permen karet. Boleh aku makan permen karet, Bunda?(Zahir, 4 tahun)

 

Pernahkah orang tua merasa khawatir akan dunia yang akan buah hati hadapi saat ia beranjak besar? Dunia di mana setiap orang mengagung-agungkan dirinya sendiri. Melalui social media setiap orang bebas memamerkan kehidupan pribadi, bebas menunjukkan ratusan foto selfie, bebas berbicara sebanyak-banyaknya tanpa peduli apakah perkataannya akan menyinggung orang lain atau tidak. Hal ini akan membuat orang-orang menjadi kurang perhatian terhadap orang lain karena terlalu fokus kepada diri sendiri. Dunia itulah yang kini orang tua tengah jalani, dan juga yang akan dihadapi oleh buah hati saat ia besar nanti.

 

Tergerusnya rasa empati menimbulkan banyak hal-hal negatif yang dialami oleh anak, antara lain maraknya budaya bullying di sekolah maupun di social media. Orang-orang tidak peduli akan apa yang dirasakan orang lain, tidak juga berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain, dan juga tidak tergerak hatinya untuk menghentikan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Orang tua tentu tidak mau jika buah hati yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang menjadi korban perilaku tidak menyenangkan yang diakibatkan kurangnya rasa empati orang-orang di sekitarnya atau bahkan buah hati ikut dalam arus menjadi orang-orang yang tidak lagi memiliki empati. 

 

Saat ini, saat ia masih berada di dalam pelukan orang tualah saat yang tepat untuk mengajarinya tentang empati. Sebuah perasaan yang akan membuatnya peduli pada apa yang orang lain rasakan. Saat ia masih dini jugalah saatnya ia belajar membentengi dirinya sendiri dari perilaku-perilaku yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh ketidakpedulian orang lain.  

 

Ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan untuk mengajarkan mengenai empati kepada buah hati, antara lain :

1. Ajarkan kepadanya tentang emosi. Buah hati tidak mengenal emosi dengan seketika. Orang tualah yang memberi nama jenis-jenis emosi yang ia rasa. Saat ia berteriak, orang tua mengatakan kepadanya bahwa ia marah. Saat ia menangis, orang tua mengatakan kepadanya bahwa ia bersedih. Hingga akhirnya dia bisa mengenal nama jenis-jenis perasaan yang pernah ia alami. Setelah mengenalnya, saat orang tua menunjukkan kepadanya seseorang yang bersedih, ia akan mencernanya dan mengetahui bahwa ia juga pernah merasakan apa yang orang tersebut rasakan dan apa yang orang itu butuhkan supaya tidak bersedih lagi.

 

2. Kenalkan empati melalui cerita-cerita dalam buku atau film. Tidak sekedar membacakan atau menemaninya menonton saja, tapi ajak ia berdiskusi tentang perasaan-perasaan yang sedang dialami tokoh dalam cerita. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya berpikir tentang perasaan tokoh dalam cerita.

 

Misalnya, :

"Ali sedih karena Nisa tidak mau berteman dengannya. Kalau menjadi Nayya menjadi teman Ali, apa yang akan Nayya lakukan?"

 

3. Kenalkan empati melalui kehidupan sehari-hari dapat mengasah kepekaannya terhadap perasaan orang lain. Sering-sering mengajukan pertanyaan kepadanya tentang apa yang dirasakan orang lain. Buah hati seringkali tertarik pada orang-orang yang dilihatnya berbeda seperti pengemis, orang gila, tuna netra, dan lain-lain. Ia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti,

 

"Kenapa jalannya seperti itu, Bunda?" 

 

"Kenapa ia memakai tongkat, Ayah?"

 

"Kenapa bajunya compang-camping?"

 

Jadikan pertanyaan-pertanyaan sebagai sarana untuk membuka hatinya agar peduli. Reaksi orang tua saat ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan reaksinya di kemudian hari. Jika orang tua memilih menariknya menjauh, berjengit, atau malah menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang ia tanyakan, itu jugalah yang akan menjadi reaksinya saat berhadapan dengan orang-orang itu di kemudian hari. Jawablah pertanyaannya dengan tenang dan teruskan pesan kebaikan untuknya, seperti mereka yang banyak juga memberikan pelajaran hidup berharga untuk orang tua

 

4. Memberinya contoh. Terdengar klise, namun buah hati lebih banyak terinspirasi dengan melihat ketimbang mendengar. Anak belajar dengan mencontoh orang tua, jadi, mulailah untuk mengurangi kebiasaan buruk agar bisa menjadi contoh yang baik  untuk anak.


5. Ajarkan kepada buah hati untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh tidak baik yang akan muncul dari orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap perasaan orang lain. Bullying di sekolah dan di social media adalah hal-hal yang rentan menimpa anak-anak, oleh karena itu mempersiapkan buah hati menghadapinya adalah kewajiban orang tua. Siapkan buah hati agar ia bisa menjadi pribadi yang memiliki kuasa penuh akan dirinya sehingga tidak boleh membiarkan orang lain membuat dirinya merasa buruk, tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi apa pun, dan berani bergerak jika melihat hal-hal yang merugikan orang lain. Pastikan juga buah hati tahu kalau ia harus menceritakan tentang siapa pun yang menyakitinya dalam hal apa pun (dengan kata-kata atau tindakan fisik).

 

 Temukan juga artikel-artikel menarik lainnya tentang anak di Ibupedia.

Selasa, 15 Juni 2021

Perundungan Terhadap Ibu (Mom Shaming)


 Foto oleh kira schwarz dari Pexels


Sebagai seorang Ibu, tentu selalu ingin melakukan yang terbaik untuk anak dan merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak. Tapi tiba-tiba, sebuah komentar dari seseorang, membuat Ibu merasa sebaliknya. Seseorang itu bisa saja teman dekat, keluarga, bahkan orang asing. Apa saja yang dikomentari? Banyak sekali. Mulai dari cara persalinan, ASI atau sufor, mengasuh anak sendiri atau dengan baby sitter, cara menggendong anak, cara pemberian MPASI, kapan waktu yang tepat untuk toilet training, popok kain atau popok sekali pakai, pola asuh, pilihan sekolah, dan masih banyak lagi. Jika itu terjadi, maka itulah mom shaming, yaitu komentar atau perilaku (raut wajah, tatapan, gestur) yang mempermalukan Ibu lainnya dengan cara menampilkan diri sebagai Ibu yang lebih baik dan lebih hebat.


Mungkin Ibu heran, bagaimana seseorang bisa sangat ikut campur dengan berkomentar mengenai kehidupan orang lain? Itu terjadi salah satunya karena setiap Ibu memiliki pilihan sendiri tentang bagaimana anaknya akan dibesarkan dan merasa itulah pilihan terbaik. Jadi, saat melihat Ibu lain memilih cara yang berbeda dalam membesarkan anak-anaknya, mereka akan merasa bahwa pilihan tersebut tidak tepat. Padahal, seorang Ibu tidak otomatis menjadi paling baik hanya karena orang lain melakukan hal yang berbeda dengan caranya dalam membesarkan anak. Banyak cara untuk mendukung Ibu yang baru saja melahirkan  dan membanding-bandingkan bukanlah salah satunya.

 

Menurut Stephanie Barnhart, pendiri Socialminded Media Group dan editor Mommy Nearest, New York, AS, perilaku mom shaming biasanya dilakukan karena ada sesuatu yang hancur di dalam diri pelakunya. Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang membuat seorang Ibu menjadi pelaku mom shaming antara lain karena merasa bosan, marah, cemburu, terlalu letih, kehilangan jati diri, luka masa kecil yang belum selesai atau karena haus pengakuan,. Bosan karena melakukan hal yang sama setiap hari, marah yang tidak tersalurkan karena tidak bisa marah kepada anak atau pasangan, cemburu kepada kehidupan orang lain yang baginya terlihat lebih baik (walaupun belum tentu), kehilangan jati diri karena ada banyak perubahan yang terjadi setelah menjadi Ibu (terutama soal kebebasan dalam waktu), dan haus pengakuan karena merasa sudah memberi yang terbaik namun tidak pernah mendapat apresiasi dari orang-orang di sekitarnya.

 

Dunia sosial media ikut mempertajam ‘sesuatu yang hancur’ itu. Apa yang ditampilkan, walaupun tidak seindah kenyataannya, karena dibingkai dengan manis, akan banyak menimbulkan kecemburuan. Akibatnya, komentar-komentar jahat dapat dengan mudah ditemukan pada kolom komentar public figure  yang rajin membagikan momen-momen bersama anaknya. Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang mau disalahkan pola asuhnya terhadap anaknya sendiri. Memberi saran itu boleh jika memang dibutuhkan, namun menyalahkan orang lain dan merasa diri paling benar, apalagi disampaikan di depan banyak orang, itu kejam.

 

Lalu, bagaimana caranya agar komentar-komentar mom shaming itu tidak merusak hari-hari dan perasaan Ibu? Pertama-tama yakinkan diri, bahwa apa yang telah Ibu lakukan adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan juga kebutuhan anak. Yakin bahwa apa yang Ibu lakukan adalah hal yang terbaik bagi anak, paling tidak untuk saat ini. Lalu, apabila komentar-komentar tidak menyenangkan itu datang dari orang yang asing atau orang yang tidak terlalu mengenal, tidak perlu ditanggapi. Jangan menghabiskan energi Ibu untuk hal-hal yang tidak perlu. Cukup katakan bahwa apa yang Ibu lakukan adalah pilihan terbaik untuk keluarga. Namun, jika komentar-komentar itu datang dari teman dekat atau keluarga, beri penjelasan kenapa Ibu harus melakukan hal yang berbeda, karena biasanya orang terdekat tidak benar-benar bermaksud untuk mempermalukan atau menyalahkan, bahkan mungkin mereka merasa bahwa Ibu butuh bantuan dan mereka sedang memberikan pertolongan.

 

Tidak perlu juga mempersulit diri sendiri dengan mendengar kata-kata orang yang hobi memberi label pada pilihan setiap Ibu. Ibu bekerja, Ibu tidak bekerja, anak ASI, anak sufor, Ibu yang memilih melahirkan normal, Ibu SC, dan masih banyak label-label lainnya. Jangan menghabiskan energi untuk menanggapi percakapan-percakapan seperti itu. Pelabelan itu masih banyak dibicarakan karena banyak Ibu lebih memilih menghabiskan energi untuk menanggapinya dibanding membiarkannya berlalu dan setia untuk bahagia pada pilihan apa pun yang telah kita ambil demi kebaikan anak dan keluarga.

 

Sudah saatnya mom shaming dihentikan karena setiap Ibu itu hebat dan istimewa terlepas dari apa pun pilihannya dalam membesarkan anak. Setiap Ibu menghadapi hal-hal berat dalam hidupnya. Setiap anak tidak hadir dengan buku panduan, Ibulah yang terus berusaha memahami kebutuhan anak dengan pemahamannya masing-masing. Ingatlah bahwa Ibu tidak sedang berada dalam kompetisi dengan Ibu lainnnya sehingga setiap Ibu sudah seharusnya untuk saling support dengan kata-kata yang baik, saran yang dibutuhkan, dan juga apresiasi terhadap segala hal yang telah dilalui oleh seorang Ibu. Temukan juga artikel-artikel menarik lainnya untuk Ibu di Ibupedia.