Selasa, 15 Juni 2021

Perundungan Terhadap Ibu (Mom Shaming)


 Foto oleh kira schwarz dari Pexels


Sebagai seorang Ibu, tentu selalu ingin melakukan yang terbaik untuk anak dan merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak. Tapi tiba-tiba, sebuah komentar dari seseorang, membuat Ibu merasa sebaliknya. Seseorang itu bisa saja teman dekat, keluarga, bahkan orang asing. Apa saja yang dikomentari? Banyak sekali. Mulai dari cara persalinan, ASI atau sufor, mengasuh anak sendiri atau dengan baby sitter, cara menggendong anak, cara pemberian MPASI, kapan waktu yang tepat untuk toilet training, popok kain atau popok sekali pakai, pola asuh, pilihan sekolah, dan masih banyak lagi. Jika itu terjadi, maka itulah mom shaming, yaitu komentar atau perilaku (raut wajah, tatapan, gestur) yang mempermalukan Ibu lainnya dengan cara menampilkan diri sebagai Ibu yang lebih baik dan lebih hebat.


Mungkin Ibu heran, bagaimana seseorang bisa sangat ikut campur dengan berkomentar mengenai kehidupan orang lain? Itu terjadi salah satunya karena setiap Ibu memiliki pilihan sendiri tentang bagaimana anaknya akan dibesarkan dan merasa itulah pilihan terbaik. Jadi, saat melihat Ibu lain memilih cara yang berbeda dalam membesarkan anak-anaknya, mereka akan merasa bahwa pilihan tersebut tidak tepat. Padahal, seorang Ibu tidak otomatis menjadi paling baik hanya karena orang lain melakukan hal yang berbeda dengan caranya dalam membesarkan anak. Banyak cara untuk mendukung Ibu yang baru saja melahirkan  dan membanding-bandingkan bukanlah salah satunya.

 

Menurut Stephanie Barnhart, pendiri Socialminded Media Group dan editor Mommy Nearest, New York, AS, perilaku mom shaming biasanya dilakukan karena ada sesuatu yang hancur di dalam diri pelakunya. Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang membuat seorang Ibu menjadi pelaku mom shaming antara lain karena merasa bosan, marah, cemburu, terlalu letih, kehilangan jati diri, luka masa kecil yang belum selesai atau karena haus pengakuan,. Bosan karena melakukan hal yang sama setiap hari, marah yang tidak tersalurkan karena tidak bisa marah kepada anak atau pasangan, cemburu kepada kehidupan orang lain yang baginya terlihat lebih baik (walaupun belum tentu), kehilangan jati diri karena ada banyak perubahan yang terjadi setelah menjadi Ibu (terutama soal kebebasan dalam waktu), dan haus pengakuan karena merasa sudah memberi yang terbaik namun tidak pernah mendapat apresiasi dari orang-orang di sekitarnya.

 

Dunia sosial media ikut mempertajam ‘sesuatu yang hancur’ itu. Apa yang ditampilkan, walaupun tidak seindah kenyataannya, karena dibingkai dengan manis, akan banyak menimbulkan kecemburuan. Akibatnya, komentar-komentar jahat dapat dengan mudah ditemukan pada kolom komentar public figure  yang rajin membagikan momen-momen bersama anaknya. Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang mau disalahkan pola asuhnya terhadap anaknya sendiri. Memberi saran itu boleh jika memang dibutuhkan, namun menyalahkan orang lain dan merasa diri paling benar, apalagi disampaikan di depan banyak orang, itu kejam.

 

Lalu, bagaimana caranya agar komentar-komentar mom shaming itu tidak merusak hari-hari dan perasaan Ibu? Pertama-tama yakinkan diri, bahwa apa yang telah Ibu lakukan adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan juga kebutuhan anak. Yakin bahwa apa yang Ibu lakukan adalah hal yang terbaik bagi anak, paling tidak untuk saat ini. Lalu, apabila komentar-komentar tidak menyenangkan itu datang dari orang yang asing atau orang yang tidak terlalu mengenal, tidak perlu ditanggapi. Jangan menghabiskan energi Ibu untuk hal-hal yang tidak perlu. Cukup katakan bahwa apa yang Ibu lakukan adalah pilihan terbaik untuk keluarga. Namun, jika komentar-komentar itu datang dari teman dekat atau keluarga, beri penjelasan kenapa Ibu harus melakukan hal yang berbeda, karena biasanya orang terdekat tidak benar-benar bermaksud untuk mempermalukan atau menyalahkan, bahkan mungkin mereka merasa bahwa Ibu butuh bantuan dan mereka sedang memberikan pertolongan.

 

Tidak perlu juga mempersulit diri sendiri dengan mendengar kata-kata orang yang hobi memberi label pada pilihan setiap Ibu. Ibu bekerja, Ibu tidak bekerja, anak ASI, anak sufor, Ibu yang memilih melahirkan normal, Ibu SC, dan masih banyak label-label lainnya. Jangan menghabiskan energi untuk menanggapi percakapan-percakapan seperti itu. Pelabelan itu masih banyak dibicarakan karena banyak Ibu lebih memilih menghabiskan energi untuk menanggapinya dibanding membiarkannya berlalu dan setia untuk bahagia pada pilihan apa pun yang telah kita ambil demi kebaikan anak dan keluarga.

 

Sudah saatnya mom shaming dihentikan karena setiap Ibu itu hebat dan istimewa terlepas dari apa pun pilihannya dalam membesarkan anak. Setiap Ibu menghadapi hal-hal berat dalam hidupnya. Setiap anak tidak hadir dengan buku panduan, Ibulah yang terus berusaha memahami kebutuhan anak dengan pemahamannya masing-masing. Ingatlah bahwa Ibu tidak sedang berada dalam kompetisi dengan Ibu lainnnya sehingga setiap Ibu sudah seharusnya untuk saling support dengan kata-kata yang baik, saran yang dibutuhkan, dan juga apresiasi terhadap segala hal yang telah dilalui oleh seorang Ibu. Temukan juga artikel-artikel menarik lainnya untuk Ibu di Ibupedia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar