Senin, 21 Juni 2021

Mengenalkan Empati pada Anak


Foto oleh Meruyert Gonullu dari Pexels

Bunda, hari ini temanku, Malik, tidak membawa bekal makanan. Dia pasti sedih karena sendirian. Bunda membawakanku dua buah roti jadi satu aku berikan pada Malik, satunya lagi aku makan. Nanti di rumah, aku masih bisa minta roti lagi pada Bunda. Jadi tidak apa-apa kalau aku hanya makan satu. Malik bilang terima kasih dan dia memberiku permen karet. Boleh aku makan permen karet, Bunda?(Zahir, 4 tahun)

 

Pernahkah orang tua merasa khawatir akan dunia yang akan buah hati hadapi saat ia beranjak besar? Dunia di mana setiap orang mengagung-agungkan dirinya sendiri. Melalui social media setiap orang bebas memamerkan kehidupan pribadi, bebas menunjukkan ratusan foto selfie, bebas berbicara sebanyak-banyaknya tanpa peduli apakah perkataannya akan menyinggung orang lain atau tidak. Hal ini akan membuat orang-orang menjadi kurang perhatian terhadap orang lain karena terlalu fokus kepada diri sendiri. Dunia itulah yang kini orang tua tengah jalani, dan juga yang akan dihadapi oleh buah hati saat ia besar nanti.

 

Tergerusnya rasa empati menimbulkan banyak hal-hal negatif yang dialami oleh anak, antara lain maraknya budaya bullying di sekolah maupun di social media. Orang-orang tidak peduli akan apa yang dirasakan orang lain, tidak juga berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain, dan juga tidak tergerak hatinya untuk menghentikan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Orang tua tentu tidak mau jika buah hati yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang menjadi korban perilaku tidak menyenangkan yang diakibatkan kurangnya rasa empati orang-orang di sekitarnya atau bahkan buah hati ikut dalam arus menjadi orang-orang yang tidak lagi memiliki empati. 

 

Saat ini, saat ia masih berada di dalam pelukan orang tualah saat yang tepat untuk mengajarinya tentang empati. Sebuah perasaan yang akan membuatnya peduli pada apa yang orang lain rasakan. Saat ia masih dini jugalah saatnya ia belajar membentengi dirinya sendiri dari perilaku-perilaku yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh ketidakpedulian orang lain.  

 

Ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan untuk mengajarkan mengenai empati kepada buah hati, antara lain :

1. Ajarkan kepadanya tentang emosi. Buah hati tidak mengenal emosi dengan seketika. Orang tualah yang memberi nama jenis-jenis emosi yang ia rasa. Saat ia berteriak, orang tua mengatakan kepadanya bahwa ia marah. Saat ia menangis, orang tua mengatakan kepadanya bahwa ia bersedih. Hingga akhirnya dia bisa mengenal nama jenis-jenis perasaan yang pernah ia alami. Setelah mengenalnya, saat orang tua menunjukkan kepadanya seseorang yang bersedih, ia akan mencernanya dan mengetahui bahwa ia juga pernah merasakan apa yang orang tersebut rasakan dan apa yang orang itu butuhkan supaya tidak bersedih lagi.

 

2. Kenalkan empati melalui cerita-cerita dalam buku atau film. Tidak sekedar membacakan atau menemaninya menonton saja, tapi ajak ia berdiskusi tentang perasaan-perasaan yang sedang dialami tokoh dalam cerita. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya berpikir tentang perasaan tokoh dalam cerita.

 

Misalnya, :

"Ali sedih karena Nisa tidak mau berteman dengannya. Kalau menjadi Nayya menjadi teman Ali, apa yang akan Nayya lakukan?"

 

3. Kenalkan empati melalui kehidupan sehari-hari dapat mengasah kepekaannya terhadap perasaan orang lain. Sering-sering mengajukan pertanyaan kepadanya tentang apa yang dirasakan orang lain. Buah hati seringkali tertarik pada orang-orang yang dilihatnya berbeda seperti pengemis, orang gila, tuna netra, dan lain-lain. Ia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti,

 

"Kenapa jalannya seperti itu, Bunda?" 

 

"Kenapa ia memakai tongkat, Ayah?"

 

"Kenapa bajunya compang-camping?"

 

Jadikan pertanyaan-pertanyaan sebagai sarana untuk membuka hatinya agar peduli. Reaksi orang tua saat ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan reaksinya di kemudian hari. Jika orang tua memilih menariknya menjauh, berjengit, atau malah menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang ia tanyakan, itu jugalah yang akan menjadi reaksinya saat berhadapan dengan orang-orang itu di kemudian hari. Jawablah pertanyaannya dengan tenang dan teruskan pesan kebaikan untuknya, seperti mereka yang banyak juga memberikan pelajaran hidup berharga untuk orang tua

 

4. Memberinya contoh. Terdengar klise, namun buah hati lebih banyak terinspirasi dengan melihat ketimbang mendengar. Anak belajar dengan mencontoh orang tua, jadi, mulailah untuk mengurangi kebiasaan buruk agar bisa menjadi contoh yang baik  untuk anak.


5. Ajarkan kepada buah hati untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh tidak baik yang akan muncul dari orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap perasaan orang lain. Bullying di sekolah dan di social media adalah hal-hal yang rentan menimpa anak-anak, oleh karena itu mempersiapkan buah hati menghadapinya adalah kewajiban orang tua. Siapkan buah hati agar ia bisa menjadi pribadi yang memiliki kuasa penuh akan dirinya sehingga tidak boleh membiarkan orang lain membuat dirinya merasa buruk, tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi apa pun, dan berani bergerak jika melihat hal-hal yang merugikan orang lain. Pastikan juga buah hati tahu kalau ia harus menceritakan tentang siapa pun yang menyakitinya dalam hal apa pun (dengan kata-kata atau tindakan fisik).

 

 Temukan juga artikel-artikel menarik lainnya tentang anak di Ibupedia.

1 komentar:

  1. Wonderful piece you got here , I feel quite happy after I read your Article because I found out that we still have intelligent informative researchers who can still take time out of their busy schedule to put all this together BEST QUALITY FAKE MALAYSIA PASSPORT I've bookmark your site and furthermore include RSS. keep us refreshed all the time.

    BalasHapus